Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 April 2015

The Avenger 2, Ketika Marvel & Disney Memilih Indonesia

Dibandingkan publik Eropa dan Amerika, Indonesia lebih beruntung.

The Avenger 2, Ketika Marvel & Disney Memilih Indonesia
Film Avengers 2: Age of Ultron (Dok Marvel)
Salah satu film paling dinanti tahun ini adalah The Avenger 2: Age of Ultron. Indonesia adalah negara yang beruntung karena sejak 22 April lalu, masyarakat bisa lebih dulu menyaksikan film buatan Marvel dan Walt Disney itu, lebih cepat 10 hari ketimbang penonton di benua Amerika Serikat dan Eropa. 

Sama seperti film pertamanya yang tayang di 2012, jilid kedua The Avengers masih diperkuat pemain-pemain lama seperti Chris Hemsworth (Thor), Robert Downey Jr (Iron Man), Chris Evans (Captain Amerika), Jeremy Renner (Hawkeye), Scarlett Johansson (Black Widow), dan Mark Ruffalo (Hulk).

Plot film dimulai ketika Avenger kembali berkumpul dalam formasi lengkap ketika dunia mendapat ancaman dari Hydra, musuh utama Captain Amerika. Kelompok ini berbahaya karena ilmuwan jahat Hydra, menggunakan tongkat sihir Loki, kakak tiri Thor, merupaka menguasai Bumi.
 
Meski tak mengalami kendala dalam mengalahkan tentara Hydra, namun para jagoan kita merasa kewalahan karena ternyata kelompok itu memiliki dua manusia super untuk menghalau kedatangan mereka.

Keduanya adalah Scarlet Witch (Elizabeth Olsen) dan Quicksilver (Aaron Taylor-Johnson) yang memiliki kemampuan mengendalikan pikiran dan berlari cepat. Namun berkat kerjasama yang solid akhirnya para Avengers mampu menaklukkan Hydra.

Avengers 5

Namun masalah tidak berhenti sampai di sana. Setelah mendapatkan tongkat sihir Loki, Tony Stark sang Iron Man, ingin menyelidiki material magis apa yang dimiliki benda itu. Ia ingin menggunakan ilmu sihir itu untuk melindungi Bumi dari serangan alien di masa datang.

Karena dinilai punya niat baik, Thor mengizinkan Tony meneliti tongkat sakti kakaknya. Sayangnya, Tony diam-diam menyusun materi makhluk Artificial Intelligence yang nantinya dapat berpikir sendiri bernama Ultron.

Sialnya, ternyata Ultron yang dirancang untuk memiliki pemikiran sendiri, memiliki sifat sombong layaknya Tony. Sehingga ia menolak tunduk pada tuannya, dan berniat menghabisi Iron Man dan teman-temannya. Tak hanya itu, Ultron mulai mencari rangka tubuh yang kuat untuk menguasai Bumi.


Plus minus tayang lebih dulu

Penayangan film The Avenger 2: Age of Ultron yang lebih cepat di Indonesia membawa pro dan kontra. Ada yang setuju agar penonton lokal bisa menyaksikan  lebih dulu ketimbang penonton di negara lain. 

Namun di lain pihak, ada yang merasa prihatin, karena sering munculnya film superhero lebih cepat dari negara lain, menandakan kepercayaan Hollywood kepada kita kecil. Ada yang mengatakan, mereka takut kalau film ini ditayangkan berbarengan dengan negara-negara lain di Indonesia, DVD bajakannya akan lebih cepat beredar di Tanah Air. 

Sementara pendapat lain mengatakan, penayangan lebih dulu di wilayah region 3 (salah satunya negara-negara di Asia Tenggara) agar ketika film ini tayang di luar Amerika Serikat, ia belum mendapat rating dari kritikus film asing, yang dikenal tajam dalam memberi kritik pada film-film yang berpotensi blockbuster. 

Meski di luar sana berkembang banyak dugaan, yang jelas pihak Walt Disney sebagai distributor punya komentar sendiri tentang alasan, mengapa sampai film jagoan super ini bisa tayang lebih awal di negara kita. 

“Indonesia dipilih menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang pertama kali menayangkan sekuel ini, karena brand Marvel memiliki penggemar luar biasa di sini,” ungkap Amit Malhotra, General Manager dari Studio Entertainment The Walt Disney Company.

Untuk mempromosikan Avengers 2, Walt Disney bahkan telah melakukan beberapa kegiatan promosional, salah satunya gimmick berupa Hulk Truck dan Hulkbuster Truck yang berkeliling ibukota. 

Avengers 3

Ke depan, mereka berencana mendatangkan truck Captain America, Thor, dan Black Widow, sehingga penggemar setia Avengers, dapat menyapa dan bertemu mereka pada 1-3 Mei 2015.

“Dengan penayangan film Avengers: Age of Ultron di tanggal 22 April, kami berharap dapat memanjakan penggemar Marvel di Indonesia, yang telah setia menunggu kelanjutan cerita dari The Earth’s Mightiest Heroes,” jelas Amit.


Fans Setia

Berbicara tentang film The Avengers, rasanya belum lengkap kalau tidak meminta komentar dari fans setia para tokoh jagoan super buatan Marvel di Indonesia. Sebab mereka inilah, orang-orang yang selalu mendukung segala bentuk produk Marvel di Indonesia, baik itu komik maupun film. 

Diwawancara Jumat siang, 24 April 2015, Chris Saxon, pengurus Komunitas Marvel Indonesia cabang Bandung mengaku, secara personal ia menyambut baik tayangnya film Avengers 2 lebih cepat di Tanah Air. 

“Film-film Marvel selalu tayang duluan di Indonesia (selain Avengers, misalnya Spiderman) dan ini sebuah keberuntungan. Itu sebabnya komunitas kami gencar mengadakan acara nonton bareng. Karena di negara-negara lain belum tayang, jadi kita orang yang pertama,” ujar pria 31 tahun, yang berprofesi sebagai freelance translator itu. 

Sementara itu, kawan Chis yang bernama Singgih Nugroho, pengurus Komunitas Marvel Indonesia cabang Jakarta punya komentar sedikit berbeda. 

Ia katakan, film Marvel memang selau laris manis hampir di semua negara. Namun tampaknya alasan mengapa film Marvel sering tayang duluan di negara kita, karena sebenarnya audience lokal bukan target utama sang pembuat film.

“Fansnya banyak, tapi mungkin tak sebanyak yang mereka mau. Karena itu, menurut saya target utama mereka tetap saja penonton Amerika dan sekitarnya. Ini soal masalah budaya Internet di negara kita yang belum sebagus di negara lain,” ujarnya.

The Avengers 2

Lebih jauh ia katakan, tidak terbayang jika film The Avengers tayang lebih dulu di Amerika Serikat. Singgih yakin spoilernya (bocoran cerita film, yang biasanya dibuat blogger atau para krustiskus yang tanpa sengaja menuliskannya) akan ada di mana mana. 

“Belum lagi masalah format CamRip-nya (format bajakan dengan kualitas buruk) yang cepat tayang di Internet. Wah, bisa-bisa merusak kenikmatan kita menonton,” papar commercial scripwriter berusia 30 tahun itu.

Terlepas dari pro dan kontra itu, Chris mengatakan, menyambut datangnya The Avengers 2 yang lebih cepat, ia dan teman-temannya di Kota Kembang menggelar acara nonton bareng Minggu, 26 April mendatang. Jumlah yang hadir biasanya puluhan, dan kali ini bioskop yang mereka pilih Trans Studio Mall. 

Sementara itu, tak mau kalah, Komunitas Marvel Indonesia region Jabodetabek, juga mengadakan acara nonton bareng besar-besaran di Mal Gandaria City, Sabtu, 25 April. Hal ini juga dilakukan teman-teman komunitas sama, yang berada di Surabaya dan Palembang. 

Sebagai pecinta berat tokoh-tokoh jagoan Marvel, Singgih merekomendasikan film The Avenger 2: Age of Ultron. Ia jelaskan ini adalah film yang aman dikonsumsi semua kalangan, anak-anak hingga orang dewasa. “Stroryline ringan dan plot-nya mudah diikuti. Film ini menawarkan aksi laga dan spesial efek yang memukau,” ujarnya. 

Sumber: fokus.viva.co.id
Ricky Anderson
Read More

Bilu Mela, Animasi Indonesia yang Diakui Internasional

Debutnya, ia menjadi screening di acara MIPCOM, Cannes.

Bilu Mela, Animasi Indonesia yang Diakui Internasional
Bilu Melu (Dok Istimewa)
Bilu Mela, film animasi buatan anak negeri melalang buana. Tercatat, setidaknya sudah lima negara yang membeli lisensi karya visual ini, termasuk di antaranya jaringan Encripta Brasil, dan jaringan Al-Jazeera TV.

Jika dihitung dari debut yang dimulai pada Oktober 2014, hal tersebut adalah pertanda bagus, bagi untuk perkembangan animasi Indonesia.

Kisahnya, tentang Bilu dan Mela, dua ikan yang hidup dalam dua akuarium berbeda. Bilu mempunyai ciri-ciri badan biru. Ia mempunyai karakter spontan dan ekstrovert. Bilu unggul dalam hal aktivitas fisik, namun cenderung ceroboh.

Sementara itu, Mela, ikan yang berwarnya merah mempunyai karakter berlawanan dengan Bilu. Mela berkarakter pendiam dan berpikir dua kali sebelum bertindak. Ia suka membaca buku dan melakukan eksperimen. Jika Bilu terlibat masalah, seringkali Mela yang mencarikan solusi.

Bilu Mela merupakan karakter ciptaan Fajar Nuswantoro. Fajar adalah lulusan IKJ yang sempat bekerja selama delapan tahun di televisi nasional. Fajar memulai bisnis animasinya pada 2012. Bilu Mela adalah karakter pertama yang ia ciptakan, demikian informasi yang redaksi VIVA.co.id dapat via rilis, Senin 27 April 2015.

“Ikan dipilih, karena mempunyai alam berbeda dengan manusia. Dia juga punya aturan hidup sendiri. Diharapkan, hal ini menimbulkan banyak kisah yang belum diketahui manusia,” kata Fajar. 

Sejak awal, Bilu Mela diciptakan tanpa dialog. Fajar sudah menetapkan bahwa animasi ini akan dijual ke pasar internasional. Fajar ingin menggunakan bahasa yang universal supaya Bilu Mela mudah diterima oleh anak-anak seluruh dunia.

Fajar memulai bisnis animasi dengan modal dua komputer. Bisnis animasi yang masih belum berkembang di Indonesia, membuat usahanya terseok-seok. 

Tetapi, ia terus berusaha menyelesaikan Bilu Mela. Gayung bersambut saat film ini memasuki masa setengah produksi. Distributor dari Irlandia, Monster Entertainment, tertarik dengan konsep yang ditawarkan. 

Mereka bekerja sama mendistribusikan Bilu Mela ke seluruh dunia. Namun, atas pertimbangan go international, mereka meminta judul Bilu Mela diubah menjadi Flip Flap. 

Debut internasional dimulai pada acara MIPCOM, di Cannes pada Oktober 2014. Flip Flap menjadi animasi Indonesia yang pertama kali screening. Dalam waktu dekat, Flip Flap akan screening di Kidscreen.

“Paling tidak ini bisa menumbuhkan rasa percay diri bagi masyarakat Indonesia, bahwa film animasi kita bisa bersaing di level dunia”, lanjut Fajar. (asp)

Sumber: life.viva.co.id
Read More

Senin, 27 April 2015

Unik, Raup Rupiah dari Replika Kertas Lakon Anime

Inilah kreativitas puluhan penggemar replika kertas di Malang

Unik, Raup Rupiah dari Replika Kertas Lakon Anime
Gundam unicorn terbuat dari kertas (VIVA.co.id / D.A. Pitaloka (Malang))
Robot berwarna kombinasi putih dan sedikit merah serta abu-abu itu berdiri tegak. Dia disandarkan di pojok ruangan sebuah rumah di Perumahan Layur Indah Kota Malang.

Pada bagian kepalanya, terdapat dua cula berwarna emas. Robot sebesar orang dewasa itu dikenal sebagai karakter anime yang sering disebut Gundam Unicorn. Di Malang, Robot itu terbuat dari kertas.
Komunitas Paper Replika Indonesia (Peri) Regional Malang membuatnya selama dua bulan terakhir. Robot itu terbuat dari 500 lembar kertas manila atau Brief Card (BC) ukuran A4 dan dikerjakan bergantian oleh puluhan anggota Peri Regional Malang.

“Kami ambil desain gratis yang bisa di temukan di internet, kemudian kami resize ukurannya jadi setinggi 1,8 meter,” kata Rizki Arya, anggota Peri Regional Malang.

Rizky dan sekitar 20 anggota aktif Peri lainnya bergantian meluangkan waktu di sela kesibukan kuliah, sekolah atau bekerja untuk menyelesaikan Gundam Unicorn.

Mereka mencetak pola, melipat, menggunting, menempel dan merakit robot dari kertas. Satu robot berukuran setinggi manusia itu terdiri dari ratusan bagian yang dirakit berbeda sebelum disambungkan menggunakan lem ataupun dengan lubang buatan.
“Semuanya 100 persen kertas, tak ada bahan lain seperti plastik atau tembaga,” katanya.

Awalnya, robot gundam itu akan digunakan sebagai kostum untuk sebuah pameran animasi di Malang dalam waktu dekat. Namun setelah hampir jadi, ide pun berubah dan tercetuslah keinginan untuk membuat paper craft Gundam Unicorn dari kertas.
“Sepertinya lebih bagus kalau dijadikan paper craft, untuk kostum anime bisa bikin lain,” katanya.

Meskipun dari kertas, Gundam Unicorn terlihat sangat mirip dengan aslinya. Berbagai detil dan bagian dari anime legendaris Gundam itu betul-betul dibuat seindah model aslinya. “Nanti akan kami pamerkan di salah satu mall di Malang,” katanya.


Desain ada di Internet

Kerajinan kertas atau paper craft sedang populer di Malang setidaknya sejak 2010 lalu. Komunitas yang besar di kalangan mahasiswa ini kini beranggotakan berbagai kalangan lain di luar mahasiswa, seperti pelajar, dosen dan pekerja.

Mereka terdorong untuk berkreasi membuat berbagai figur anime dari desain yang banyak tersebar di internet, “ Ada banyak karakter yang bisa dipakai paper craft, mulai dari karakter Spongebob, Iron Man, sampai karakter lucu dari Jepang, Danbo. Desain bisa diunduh gratis di berbagai web, salah satunya di paper-replika.com,” katanya.

Selain di website, anggota Peri juga sering menciptakan desain mereka sendiri. Umumnya, masing-masing desain di unggah di media sosial masing-masing seperti Facebook.

Untuk menghargai karya cipta, pengguna desain tak berhak memperjual belikan karya mereka yang berasal dari desain orang lain, “Ada yang premium dan gratis," tambahnya.

Jika menggunakan pakai desain gratis hasil karya tak boleh dijual, kecuali seizin pemilik desain yang sudah mendapatkan royalti. "Kalau beli desain premium, karya otomatis sudah jadi milik kita. Desain premium biasanya banyak di-publish di media sosial milik sendiri seperti fanpage Facebook,” kata anggota yang mulai tertarik dengan paper craft sejak tujuh tahun lalu ini.

Satu desain premium, menurutnya, dijual dengan harga antara Rp50 ribu hingga Rp100 ribu. Jika ingin menjual karya dari desain yang dibagi gratis, seringkali pemilik desain segera mengizinkan tanpa meminta royalti,

“Untuk izin pemilik desain kita juga menjelaskan tujuan menjual karya ini, sebagian besar pemilik desain pasti mengizinkan,meskipun ada juga yang tidak memberi izin. Begitupun untuk menjual karya, harganya harus benar-benar berpatokan pada modal yang keluar, tidak asal-asalan,” katanya.


Tambah pemasukan

Di Peri Regional Malang beberapa anggota mulai menciptakan karya milik mereka sendiri. Meskipun tak ada proses paten hak karya secara resmi, namun aturan main untuk menghargai karya seseorang dipegang erat oleh anggota Peri.

Anggota tak bisa menjiplak desain orang dan menamainya sebagai milik sendiri, “ Komunitas kita terkoneksi lewat berbagai jejaring sosial. Internet memudahkan kami untuk menambah referensi, melebarkan jaringan dan galeri karya. Jadi satu sama lain sebagian besar sudah kenal karakter desainnya,” katanya.

Rizky sendiri memiliki beberapa karakter karyanya sendiri, ada Ongis sekor singa, Gori karakter yang mirip Gorila, Jeje si Jerapah dan Ble anak gajah dari kata Bledug.

Satu paket kertas berpola, plus tutorialnya dijual dengan harga Rp50 ribu, “ ini sempat banyak dibeli beberapa sekolah, sudah satu tahun berjalan, tapi sempat vakum karena kesibukan kuliah,” kata mahasiswa dari Universitas Negeri Malang itu.

Bukan hanya Rizky yang mulai mendapat pemasukan dari hobinya, beberapa anggota Peri Regional Malang juga diminta menjadi guru sukarelawan di sebuah sekolah dasar di Dinoyo, “Mereka mengajar setiap dua minggu sekali, ada tiga teman yang bergantian mengisi. Kesenian ini dianggap bisa meningkatkan kreatifitas pelajar,” katanya.

Jika sedang pameran, sejumlah karya mereka juga banyak diminati pengunjung pameran. Hasilnya, komunitas yang berdiri sejak 2011, itu bisa mandiri dari berbagai pemasukan.
"Komunitas ini tak ada susunan pengurusnya. Tapi dari berbagai pemasukan kami bisa mandiri dan membiayai hobi kami sambil mengasah kreatifitas,” imbuhnya.

Sumber: viva.co.id
Read More

Minggu, 26 April 2015

Teknologi Pencitraan Menguak Rahasia Lukisan Rembrant

Kemajuan teknologi telah mendorong para ilmuwan untuk lebih bisa mendedikasikan dirinya dalam menggali hal-hal yang masih belum terjamah. Teknologi kini telah menjangkau ke segala bidang, bahkan untuk menguraikan bagaimana sebuah lukisan dari hasil mahakarya seorang masterpiece diciptakan. Teknologi pencitraan terbaru telah digunakan untuk melihat lapisan demi lapisan dari cat dan pensil yang digunakan seorang seniman terkenal, Rembrant.

Para sejarawan seni dan ilmuwan menggunakan metode pencitraan untuk menggali dan memindai secara virtual lapisan demi lapisan dari sebuah mahakarya lukisan. Diharapkan informasi yang didapatkan dapat menjadi bahan perbandingan bagaimana seorang seniman bekerja atau teknik lukisan seperti apa yang digunakan untuk menghasilkan sebuah lukisan indah. Metode ini digunakan untuk melindungi lukisan asli karena tidak teknik yang digunakan sifatnya tidak merusak atau menciderai karya aslinya.

Penelitian yang dipimpin oleh Matthias Alfeld dari University of Antwerp di Belgia, yang diterbitkan dalam jurnal Springer Fisika Terapan A: Material Science dan Pengolahan, mengambil subjek lukisan Susanna and The Elder karya Rembrant Van Rijn untuk di teliti dan digali informasinya. Mereka penggunaan kombinasi tiga teknik pencitraan untuk mendapatkan informasi berharga selengkap-lengkapnya tentang apa yang ada di belakang dari kompleksitas penciptaan sebuah mahakarya secara mendetail.




Karya lukisan Rembrant Van Rijn yang berjudul Susanna and The Elder, tertanggal dan tertandatangani tahun 1647 itu tergantung di museum Gemaldegalerie. Sebuah museum seni di jerman dimana lukisan tersebut memiliki perubahan seni yang cukup banyak yang disebut pentimenti dibawah komposisi yang ada saat ini. Pentimenti diambil dari kata kerja berbahasa Itali, pentire yang artinya bertobat). Terungkap pada tahun 1930-an dengan menggunakan alat radiografi X-ray (XRR) pertama.

Penyelidikan dilanjutkan kembali pada tahun 1994 dengan menggunakan aktivasi neutron autoradiografi (NAAR-Neutron  Activation Autoradiography). Pada teknik ini ilmuwan menemukan detail tersembunyi lebih lanjut tentang perubahan yang dibuat dengan pigmen selain timah putih (bahan dasar cat minyak pada lukisan). Kemudian tim Alfeld menggunakan teknik Fluoresensi makro-x-ray (MA-XRF) scan, teknik yang digunakan dapat dilakukan dalam satu hari dengan menggunakan jenis scanner rumah di museum di Berlin. Hasilnya kemudian dibandingkan dengan gambar radiografi lukisan. Dengan teknologi pencitraan ini diharapkan dapat menguak rahasia yang terkandung di dalam lukisan, baik unsur dan teknik melukis yang digunakan.

Susanna and The Elder merupakan mahakarya dari seorang seniman besar Rembrant Van Rijn yang menyimpan banyak rahasia dan memanjakan mata para pecinta lukisan karena efek optik warna yang diciptakan mampu menghipnotis pikiran manusia

Tim Alfeld menemukan bahwa gambar dari unsur-unsur yang digunakan yang diakuisisi oleh X-ray fluorescence scan yang paling mudah untuk menafsirkan. Hal ini karena sebagian besar elemen individual jelas dipisahkan. Sebuah elemen yang lebih luas juga dapat dipelajari, dibandingkan dengan menggunakan autoradiografi. Namun, X-ray fluorescence scan hanya dapat digunakan untuk mendeteksi bone black pada permukaan lukisan dan tidak pada lapisan sub-permukaan, seperti sketsa tersembunyi yang ditemukan di dalamnya.

Ketiga teknik (radiografi X-ray awal, NAAR-Neutron  Activation Autoradiography dan makro-X-ray fluorescence (MA-XRF) scan yang baru-baru ini dikembangkan) mengungkapkan perubahan besar yang dibuat pada lukisan. Autoradiografi adalah alat yang sangat cocok untuk mempelajari pigmen seperti bone black, umber, tembaga berbasis hijau dan biru, smalt and vermilion, tetapi tidak untuk kalsium, besi dan timah. Hal ini juga satu-satunya metode yang mampu memvisualisasikan fosfor, unsur yang ternyata hadir pada sketsa lukisan, yang ada dalam warna bone black, di lapisan cat yang lebih rendah. Dengan radiografi X-ray dan autoradiografi, sapuan kuas tunggal dapat dilihat, yang membantu studi melihat teknik melukis yang digunakan.

Tim Alfeld memilih untuk menyelidiki Susanna and The Elder bukan hanya karena pentimenti yang terlihat jelas, tetapi juga karena ukurannya yang lebih kecil sehingga memudahkannya untuk melakukan scan. Mengingat waktu yang relatif singkat dan sedikit usaha yang diperlukan untuk penyelidikan menggunakan X-ray fluorescence scan, teknik ini diharapkan dapat diterapkan lebih sering di masa depan dengan menggunakan teknologi pencitraan autoradiografi. Kemampuan metode yang terakhir mampu memvisualisasikan distribusi dari unsur-unsur tertentu melalui daya serap yang kuat dari lapisan alasnya, dan kedua metode lainnya telah memberikan informasi pelengkap.

Sumber: viva.co.id
Sumber: isains.com

Read More

Mengenai Saya

Foto saya
facebook.com/iqbal.alhabsi - iqballsyaif@gmail.com
Designed ByBlogger Templates