Tampilkan postingan dengan label Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 April 2015

Gravitasi, Cumi-cumi, dan Kebutaan: Bagaimana Rasanya Hidup di Luar Angkasa?

Misi ketahanan tubuh manusia di Stasiun Luar Angkasa Internasional selama satu tahun diluncurkan pada 27 Maret lalu dan melibatkan 19 uji medis dan biologis, 14 di antaranya dirancang oleh Badan Antariksa Rusia. Kosmonot Mikhail Kornienko dan astronot NASA Scott Kelly juga akan melakukan dua eksperimen bersama. Sebagian besar tes akan digunakan oleh para ilmuwan untuk menilai kemampuan tubuh manusia selama melakukan perjalanan luar angkasa jangka panjang untuk persiapan misi ke Mars.


Kelaparan di Ruang Tanpa Gravitasi

Seperti yang ditunjukan oleh beberapa uji coba sebelumnya, kondisi tanpa bobot berdampak terhadap kebiasaan makan manusia. Makanan tak memiliki bobot di luar angkasa, sehingga para astronot merasa lebih sering lapar di banding saat mereka di Bumi. Menurut Boris Afonin, pengawas ilmiah uji makanan, peningkatan nafsu makan yang dikombinasikan dengan rendahnya jumlah kegiatan fisik kadang menciptakan peningkatan berat badan para penjelajah ruang angkasa.

Dampak lain kondisi tak berbobot adalah astronot merasakan perubahan pada indra perasa mereka saat di luar angkasa. "Ini bukan berarti makanan asin menjadi manis atau asam," kata Afonin. "Tapi astronot kerap menyadari bahwa makanan yang mereka sukai saat menjalani tes uji coba makanan di Bumi tak terlihat enak lagi. Beberapa dari mereka mengeluh mereka tak memperoleh kesenangan dari makan saat sedang menjalankan misi. Penyebab hal ini masih harus kami selidiki."

Namun, saat pulang ke rumah, astronot tak bisa langsung menyantap bistik atau borsht (sup bit khas Rusia), seperti yang diduga orang-orang. "Mereka perlu beradaptasi terlebih dahulu, karena setelah menyelesaikan misi di luar angkasa, mencerna makanan Bumi dibutuhkan kerja keras," kata Afonin. "Alasannya, kondisi tak berbobot juga menekan aktivitas sistem pencernaan manusia, atau dengan kata lain usus kehilangan kemampuan untuk mendorong makanan."

Akan tetapi, menurut Afonin, semua itu hanyalah asumsi umum, dan uji coba yang ia awasi akan menentukan bagian mana dari saluran pencernaan manusia yang paling terdampak, termasuk jika ada risiko perubahan patologis. Data tersebut akan digunakan untuk mencari tahu cara menghindari perubahan yang berbahaya dalam sistem pencernaan dan menyusun diet yang optimal bagi astronot.


Darah Mengalir ke Atas

Ilmuwan Rusia yang terlibat dalam misi tersebut juga akan memantau metabolisme tubuh Mikhail Kornienko. Setiap dua bulan, sang kosmonot akan mengisi kuesioner mengenai konsumsi air dan makanan, mengambil sampel darah, dan hasilnya ditampilkan pada alat khusus bernama "Sprut" (cumi-cumi dalam bahasa Rusia).

Data diharapkan dapat membantu ilmuwan melihat bagaimana kondisi tanpa bobot memengaruhi daya tahan tubuh dan sistem kelenjar endokrin manusia. "Bahkan perubahan kecil di kelenjar endokrin dapat berdampak terhadap performa astronot," terang Galina Vasilieva, kepala peneliti di Institute of Biomedical Problems of the Russian Academy of Sciences.

Selain itu, pengaruh kondisi tanpa gravitasi juga berdampak terhadap redistribusi cairan tubuh manusia dan bisa mengakibatkan dehidrasi. "Kondisi tanpa bobot membuat sejumlah besar darah didistribusikan ulang ke bagian atas tubuh," kata Vasilieva. "Semua organ, termasuk hati, harus bekerja lebih keras. Untuk beradaptasi terkait hal ini, tubuh berusaha menyingkirkan kelebihan cairan. Akibatnya, pada hari pertama misi astronot memperlihatkan peningkatan jumlah urin."

Saat astronot kembali ke Bumi, hal yang terjadi sebaliknya: gravitasi menyergap dan darah cenderung didorong ke bagian bawah tubuh, sehingga astronot sulit berdiri di atas kaki mereka setelah mendarat. Uji coba yang dilakukan oleh tim Rusia akan membantu memfasilitasi dan mempercepat adaptasi pada kondisi baik di antariksa maupun di Bumi.


Terlalu Mudah Bernafas

Tes lain yang dilakukan dijuluki "Udod" (sejenis burung berwarna di Rusia). Uji coba pertama dilakukan pada saat astronot berada di kondisi tanpa gravitasi. Uji coba tersebut mempelajari dampak redistribusi cairan pada sistem pernafasan dan pengelihatan. Peningkatan aliran darah ke bagian atas tubuh menyebabkan tekanan intrakranial. Ini dapat mengakibatkan menurunnya kemampuan pengelihatan, yang telah dilaporkan oleh beberapa astronot. Hal itu juga terjadi saat para astronot berdiri terbalik.

Sebagai bagian dari eksperimen, Mikhail Kornienko akan bernafas menggunakan alat khusus yang didesain untuk menurunkan tekanan darah di rongga dada dan mendorong darah kembali ke bawah, kata salah satu ilmuwan Rusia Alexander Suvorov. "Dalam kondisi tanpa gravitasi, otot pernafasan melemah, sama seperti otot kaki, karena di sana lebih mudah untuk bernafas," kata Suvorov. "Udod didesain untuk membuat kosmonot melakukan upaya lebih keras menghirup nafas di kondisi tanpa bobot, bekerja seperti mesin olahraga," terangnya.

Sumber: RBTH Indonesia
Sumber: news.viva.co.id
Anna Kuchma

Read More

Senin, 27 April 2015

Petani Taiwan Gunakan LED Sebagai Pengganti Matahari



Petani Taiwan menggunakan teknologi tinggi untuk memperbaiki hasil panen mereka. Salah satunya adalah penggunaan lampu LED sebagai pengganti sinar matahari dalam sebuah ruangan tertutup.

Sumber: viva.co.id
Read More

Sabtu, 25 April 2015

Mekkah Merupakan Pusat Daratan Dunia

Temuan ilmiah yang menghebohkan para ilmuwan dan dipublikasikan pada bulan januari 1977 menyebutkan,”Kota Mekah adalah pusat daratan di dunia.” Fakta ini ditemukan setelah melalui riset panjang dan mengacu pada sejumlah table matematis yang sangat rumit dengan bantuan teknologi computer.

Ilmuwan mesir, Dr Husein Kamaludin, penemu fakta ini menuturkan kisah penemuannya yang cukup mencengangkan ini penelitian ini dimulai dengan tujuan yang sangat berbeda dengan hasil yang diperoleh. Pada awalnya penelitian dilakukan untuk mendapatkan suatu alat yang dapat membantu siapapun dan di tempat manapun dari penjuru dunia ini untuk mengetahui dan menentukan posisi kiblat.

Sebab, selama perjalanannya ke Negara luar, ia merasa bahwa penentuan arah kiblat selalu menjadi masalah yang dihadapi seluruh umat muslim ketika berada di suatu tempat yang tidak ada masjidnya atau tempat shalat yang memiliki tanda jelas arah kiblat. Masalah ini juga sering dihadapi oleh seseorang yang berada di luar negeri (yang bukan negeri islam), misalnya para pelajar dan mahasiswa yang dikirim ke luar negeri.

 
Karena itu, Dr Husain Kamaludin berfikir untuk membuat peta dunia baru yang dilengkapi petunjuk posisi arah kiblat. Setelah membuat rancangan awal riset pendahuluan yang diarahkan untuk membuat peta baru ini dan menggambar lima benua pada peta itu, tiba tiba temuan yang mengundang decak kagum itu muncul.


Ilmuwan Mesir ini menemukan bahwa posisi kota Mekah berada tepat di tengah tengah dunia. Ia lalu memegang sebuah jangka dan meletakkan salah satu ujungnya di gambar kota Mekah lantas menjalankan ujung lainnya pada ujung setiap benua. Ternyata daratan yang ada di permukaan bola bumi terbagi secara sistematis di sekitar kota Mekah. Dari sini, ia menemukan bahwa kota Mekah adalah pusat daratan. Selanjutnya ia ambil peta kuno sebelum ditemukannya benua Amerika dan Australia. Setelah melakukan uji coba berkali kali, ia pun menemukan bahwa Mekah tetap menjadi titik sentral daratan, hingga ketika dibandingkan dengan kondisi peta dunia masa permulaan Islam.

Dr Husain Kamaludin menambahkan, “Saya mulai penelitian ini dengan menggambar peta yang memperhitungkan jarak semua tempat di muka bumi dengan kota Mekah. Saya kemudian mengukur garis garis bujur yang sama untuk mengetahui posisi garis lintang dan garis bujur jika diukur dari kota Mekah. Setelah itu, saya gambar batas batas benua dan hak hak detail lainnya pada jaringan garis garis ini. Hal ini membutuhkan pemprosesan matematis yang sangat pelik, dengan bantuan teknologi computer guna menentukan jarak dan deviasi yang diperlukan. Penelitian ini juga membutuhkan software penggambar garis lintang dan garis bujur untuk proyeksi baru ini.


Secara kebetulan menemukan bahwa seorang dapat menggambar lingkaran yang berpusat di kota Mekah dan batas batasnya di luar ke ke-enam benua. Dan garis pinggir lingkaran ini mengitari batas batas luar benua benua tersebut. Dengan demikian, Mekah adalah jantung bumi. Dan hal ini sebelumnya sudah diindikasikan oleh sains modern melalui temuan para ilmuwan, yang menyebutkan kota Mekah merupakan pusat radiasi gravitasi magnetic. Fenomena unik juga akan dirasakan oleh semua orang yang mengunjungi kota Mekah untuk tujuan haji atau umrah, dengan hati yang tulus dan bertaubat kepada Allah. Ia merasa seolah olah tertarik dengan semua yang ada di Mekah, dari tanah, pegunungan, hingga semua yang ada di sana, seolah olah ia merasa melebur bersama kota Mekah dengan segenap jiwa dan raganya. Dan ini adalah perasaan yang terus berlangsung sejak awal keberadaan bumi.

Sebagaimana halnya planet planet yang lain, bumi pun melakukan barter daya tarik dengan planet planet dan bintang bintang lainnya. Daya tarik ini bersumber dari dalam bumi yang bermuara pada satu titik sentral bumi yang juga menjadi sumber sinar radiasi. Titik temu plutonik inilah yang ditemukan oleh seorang ilmuwan Amerika dalam bidang topography setelah memastikan keberadaan dan letak geografisnya. Dalam hal ini ia tentu saja tidak didorong oleh keyakinan agama. Siang malam, dengan semangat tinggi ia bekerja di laboratoriumnya sambil menghadapi peta peta bumi dan perlengkapan lain. Dan tanpa sengaja ia menemukan bahwa pusat pertemuan radiasi kosmos berada di kota Mekah.

Mengacu pada fakta fakta ilmiah di atas, kita pun bisa mengenali hikmah di balik pemilihan kota Mekah sebagai tempat berdirinya Baitullah, sekaligus sebagai tunas penyebaran risalah Islam di seluruh penjuru dunia. Dan ini membuktikan adanya kemukjizatan ilmiah yang terkandung dalam hadist Nabawi yang menampilkan keutamaan status kota Mekah dibandingkan tempat tempat yang lain di permukaan bumi. Wallahu alam.

Allah SWT Berfirman,” dan agar kamu memberikan peringatan kepada penduduk Ummul Qura (Mekkah) dan orang orang yang di luar lingkungannya.” (QS Al An’am 92) Nabi SAW berdiri di bukit Hazwarah (di Mekkah) lalu berkata pada kota Mekkah ,” Aku tahu bahwa engkau adalah sebaik baik bumi Allah dan yang paling dicintai Allah, seandainya keluargamu tidak mengeluarkan darimu, niscaya aku tidak keluar.’

Sumber: forum.viva.co.id
Sumber: media.ikhram.com
Read More

Jumat, 24 April 2015

Gunung Calbuco Meletus

 Asap dan abu vulkanik membumbung tinggi dari gunung berapi Calbuco, di Chile, 22 April 2015. Gunung Calbuco meletus untuk pertama kalinya setelah hampir lima dekade tak menunjukkan aktivitas.

Asap dan abu vulkanik dari gunung berapi Calbuco terlihat dari kota Puerto Montt, 22 April 2015 Foto : REUTERS/Rafael Arenas

Asap dan abu yang membumbung dari gunung berapi Calbuco terlihat dari kota Puerto Montt, 22 April 2015. Foto : REUTERS/Sergio Candia

Asap dan abu dari gunung berapi Calbuco, dilihat dari kota Puerto Varas, Santiago, 22 April 2015. Foto : REUTERS/Carlos Gutierrez

Gunung berapi Calbuco memuntahkan Asap dan lava seperti yang terlihat dari tepi Danau Llanquihue di Puerto Varas, 23 April 2015 Foto : REUTERS/Carlos Gutierrez

Asap dan abu dari gunung berapi Calbuco, terlihat dari kota Puerto Varas, selatan Santiago, 22 April 2015. Foto : REUTERS/Carlos Gutierrez

Asap dan abu vulkanik membumbung tinggi dari gunung berapi Calbuco, seperti yang terlihat dari kota Puerto Montt, 22 April 2015. Foto : REUTERS/Rafael Arenas

Sumber: viva.co.id
Read More

Kamis, 23 April 2015

Peringatan Hari Bumi 2015

Sejumlah warga di berbagai daerah memperingati Hari Bumi, Rabu (22/4/2015). Dalam aksinya mereka mengkampanyekan peningkatan kesadaran dan apresiasi terhadap bumi serta peduli terhadap lingkungan hidup.

Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas 45 Makassar melakukan aksi memperingati Hari Bumi di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (22/4/2015) Foto : Antara/Sahrul Manda Tikupadang






Sejumlah mahasiswa yang berasal dari berbagai komunitas mahasiswa pecinta alam Surabaya menggelar aksi menyambut Hari Bumi di Surabaya, Jawa Timur (19/4/2015). Foto : Antara/Zabur Karuru


Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar melakukan aksi teatrikal saat memperingati Hari Bumi International (Earth Day) di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (22/4/2015). Foto : Antara/Yusran Uccang


Sejumlah aktivis lingkungan yang tergabung dalam Bandung People Forum memeringati Hari Bumi di Hutan Kota Babakan Siliwangi Bandung, Jawa Barat, Rabu (22/4/2015). Foto : Antara/Agus Bebeng


Aktivis dari Koalisi Peduli Bumi Aceh mengenakan topeng dan membentang spanduk serta poster saat aksi memperingati Hari Bumi di Banda Aceh, Rabu (22/4/2015). Foto : Antara/Ampelsa


Aktivis mahasiswa melakukan aksi teatrikal, saat memperingati hari bumi se-dunia, di Kabupaten Pamekasan, Jatim, Rabu (22/4/2015). Foto :
Sumber: viva.co.id
Read More

Kamis, 26 Maret 2015

Jumat 27 Maret, Asteroid 1.000 Meter Berpapasan dengan Bumi

Jaraknya sekitar 11,6 kali lebih dekat ketimbang bulan.

Jumat 27 Maret, Asteroid 1.000 Meter Berpapasan dengan Bumi
Iustrasi (Reuters/NASA/JPL-Caltech/Handout)
Setelah berpapasan dengan Asteroid BL86, bumi akan kembali bertemu dengan asteroid lain. Kali ini asteroid itu bernama 2014-YB35.

Dilansir Softpedia, Kamis 26 Maret 2015, asteroid YG35 akan mendekati bumi pada Jumat, 27 Maret 2015. Jaraknya sekitar 11,6 kali lebih dekat ketimbang bulan. 

Dengan kata lain, 2014-YB35 tidak akan memberikan kekhawatiran bagi penduduk bumi. Jarak YB35 dengan bumi hanya sekitar 4,5 juta kilometer atau sekitar 2,8 juta mil. Bisa dibilang, untuk ukuran luar angkasa, jarak ini hampir mendekati. Namun ilmuwan memastikan jarak ini tidak akan membahayakan keselamatan bumi.

Asteroid YB35 ditemukan pertama kali pada 27 Desember 2014 oleh astronom yang bekerja di Catalina Sky. Itu merupakan proyek yang meneliti dan mengidentifikasi komet maupun asteroid yang berpotensi mengancam bumi.

Sejak ditemukan, batu luar angkasa itu telah diobservasi berkali-kali, bahkan dalam 380 kali kesempatan. Astronom memprediksi, ukurannya berkisar 440 sampai 990 meter atau sekitar 1.440 sampai 3.250 kaki.

Dengan ukuran sebesar itu, kecepatan batu luar angkasa mencapai 10,6 kilometer per detik atau sekitar 6,6 mil per detik.

Ini merupakan kali kedua dalam tahun ini sebuah asteroid hampir menabrak bumi. Sebelumnya, pada Januari, asteroid 2014-BL86 melewati bumi dengan jarak 1,2 juta kilometer atau sekitar 750.000 mil dari bumi.

Untungnya, meski jaraknya dekat, BL86 juga tidak berpotensi menabrak bumi. B86 pun melanjutkan perjalanannya di luar angkasa. 

Setelah YB35 melintas, wujudnya tidak akan mendekat ke bumi sampai 2033 nanti. Asteroid itu akan kembali mengunjungi bumi pada tahun itu dengan jarak terdekatnya mencapai 3,2 juta kilometer atau sekitar 2 juta mil dari bumi.

Sumber: viva.co.id
Read More

Mengenai Saya

Foto saya
facebook.com/iqbal.alhabsi - iqballsyaif@gmail.com
Designed ByBlogger Templates